Hubungan antara Agama dan Sains

Vaksinasi pada manusia dewasa maupun anak usia di atas 12 tahun di era pandemi bagian dari upaya sains menjawab persoalan virus Corona yang masih melanda di beberapa belahan dunia. Hizib dan ragam doa perlindungan serta istighosah serta mengasingkan diri dari jarak manusia juga solusi agama khususnya Islam dalam menjawab persoalan pandemi yang melanda penduduk bumi sekarang ini.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa bumi adalah panggung drama kehidupan manusia, di mana kata hidup-meninggal-dan nanti dihidupkan pada Q.S. al-Araf: 25 yang berbunyi, “Di sana kamu hidup, di sana kamu mati, dan dari sana (pula) kamu akan dibangkitkan.” Qur’an juga menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari saripati tanah planet bumi pada Q.S. al-Mu’minun: 12. Zat-zat yang terkandung dalam darah manusia sama dengan yang terkandung di tanah bumi. Sejak awal, manusia diciptakan di bumi, bukan di planet lain. mulai dari diciptakan, mati dan dibangkitkan.

Hingga saat ini, muncul pertanyaan “Apakah planet buminya sama dengan planet bumi yang kita huni pada saat ini?” “Apakah planet bumi akan tetap cukup dengan populasi yang semakin banyak?” “Apakah Pandemi Covid 19 adalah bagian dari proses seleksi alam?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dalam Q.S. Ibrahim: 48 yang memberikan informasi bahwa planet bumi kelak akan direformasi oleh Allah SWT. sesuai dengan kebutuhan di fase akhirat, tetapi tempatnya tetap di planet bumi.

Dalam beberapa ayat diceritakan bahwa jagat raya mengandung banyak isi dan bumi sangat kecil dibandingkan dengan keseluruhan jagat raya. Pengibaratan bumi dibandingkan semesta raya bagaikan satu butir “kacang ijo” dengan berisi lautan dan daratan, dimana daratan disebut benua, lautan disebut samudra dimana didalamnya terdapat beraneka ragam jenis hewan ikan dan beraneka ragam jenis logam dan batu karang serta perihal misteri lainnya. Tidak diketahui seberapa luas dan dimana batas jagat raya. Dalam Al-Qur’an juga dijelaskan bahwa pada awalnya jagat raya tidak pernah ada, kemudian diciptakan, dan akan kembali dibinasakan seperti yang disampaikan pada Q.S. al-Anbiya: 30. Dilanjutkan dalam ayat bahwa setelahnya dipisahkan dan mengembang menjadi jagat raya yang seluas sekarang.

Sedangkan dari sudut pandang sains, faktanya jagat raya memang sedang mengembang (dari data observatorium dalam dan luar bumi) dan benda-benda langit memang sedang bergerak menjauh seperti yang dikatakan oleh Al-Qur’an. Langit menurut Al-Qur’an sedang ditinggikan atau meluas yang disebut dengan expanding universe dan terbukti oleh sains. Volume jagat raya pada masa lalu jelas lebih kecil daripada sekarang (karena belum mengembang) hal ini yang digambarkan Al-Qur’an bahwa pada awalnya jagat raya bersatu padu dan akhirnya dipisahkan. Penggambaran tersebut sesuai dengan teori ilmu pengetahuan, meskipun belum tentu sama persis keduanya, tetapi terdapat keselarasan antara keduanya.

Teori bigbang adalah teori ledakan dahsyat dari alam semesta yang menjadi awal mula terbentuknya jagat raya. Terdapat juga teori lainnya yang mencoba menggambarkan asal mula jagat raya, tapi intinya sama bahwa pada awalnya jagat raya bermula dari satu titik (sesuai dengan penjelasan dalam Al-Qur’an). Terdapat titik singular (titik nol) di mana ruang dan waktu belum ada dan masih menjadi pertanyaan ilmuwan hingga para ilmuwan mengadakan rekonstruksi teori. Hal tersebut menjadi pengakuan ilmuwan pada kekuatan yang diluar kekuatan manusia dan kepercayaan terhadap Tuhan. Stephen Hawking berpendapat bahwa jagat raya muncul dari fluktuasi kuantum (menghindarkan peran Tuhan), tetapi tidak bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai fluktuasi kuantum tersebut.

Teori osilasi menyatakan bahwa jagat raya tidak muncul dari ketiadaan, tetapi dahulu muncul, lalu lenyap, dan terus begitu tanpa berkesudahan yang pernah juga disinggung dalam Al-Qur’an. Multiverse adalah hipotesis berupa jagat raya bisa saja bukan hanya ada satu, tetapi jumlahnya multi atau majemuk. Teori String atau teori membran adalah pemikiran modern mengakui bahwa jagat raya berlapis-lapis (multiverse) dan sudah disinggung dalam Al Quran (langit yang berlapis tujuh). Jagat raya sendiri belum memberikan data yang seluruhnya dan masih sebagian kecil (5% dari realitas jagat raya) bagi manusia.

Al-Qur’an menyampaikan bahwa jagat raya diciptakan oleh Allah dari tidak ada menjadi ada, digambarkan langit dan bumi dulunya satu padu lalu dipisahkan dengan kekuatan menjadi meninggi dan meluas. Di sisi lain, ilmu pengetahuan juga memberikan pengetahuan yang kurang lebih sama. Dengan munculnya berbagai teori, di mana manusia sedang berproses memberikan bukti-bukti yang diformulasikan melalui teori. Dengan demikian, Quran dan sains berjalan seiring, tetapi tetap membutuhkan pembuktian final agar teori yang belum final tidak dapat diklaim kebenarannya karena harus melalui trial and error.

Dari sini kebenaran agama melalui para penafsir ayat-ayat Kauniyah tidak boleh serta merta mutlak kebenarannya sebelum empirisme saint membuktikan kebenarannya dan keobjektifan tafsirnya mengalami kevalidan. Ali Mudsair.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *